Rishela's Blog

kereta nirwana sang senja

Archive for Rajutan Puisi

Ruang Mendung

Koyakkan nyawa menguntai duka
Menyisakan tubuh yang berselimut luka
Perlahan sunyi menyinggahi jiwa
Menghardik hening berlumpur lara

Hempasan bencana merampas bahagia
Mencipta mendung di tengah decak tawa
Kuas nirwana pun mulai menoreh nama
Menyibak tangis yang dilantunkan pada sang Kuasa

Haturan kata seakan punah
Terkubur rata dengan airmata
Kini Luapan angan menghabur perih
Terkaram bisu di bebatuan pusara

Advertisements

Berharga

Tak kusangka akan melihat teduhnya parasmu lagi,
Kuraih tatapan hangatmu dengan seutas senyuman,
Berharap ini tak lekas berlalu,
Ketika suara lembutmu menyebut namaku,
Aku hanya mampu membalasnya dengan rinai airmata,
Ternyata suara itu kudengar lagi,
Ternyata namaku masih mampu kau ucapkan,
Isak tangis ini menyiratkan betapa berharganya hal itu untukku.

Sekuntum penat beranjak lalu karena hadirmu,
Separuh hari terasa sepintas karena rinduku yang tak berujung padamu,
Menganyam tawa bersamamu adalah hal yang kunanti,
Kecupanmu,
Pelukkanmu,
Selalu terbungkus rapih dalam mindaku,
Dan kini, terluput sudah seluruh penantian di hati.

…….
Sayup-sayup sadar menjemput lelapku,
Sedetik bahagiaku pun mengangin,
Berlumpur kecewa kuusap kesalku,
Tersaji lagi kehampaan di sini,
Sungguh jiwaku berbangsa sepi,
Menelan kenyataan akan hadirmu yang hanya sebatas mimpi…

Riakan Rindu

Aku menghela napas panjang mencoba mengatakan kepada diri sendiri bahwa aku tidak menyetujui rasa ini…
Rindu yang beriak membuatku lemah…
Aku hanya mampu memeluk erat kedua lututku dan membenamkan wajahku di sana…

Usaha canggungku untuk membohongi diri sendiri begitu menyiksaku…
Semakin kuabaikan rindu itu, riakannya semakin menderu beradu dengan isakkan tangisku…
Entah mengapa, seketika kurasa benakku merangkul aroma tubuhmu yang menawarkan selaksa rindu…
Sekejap tubuhku terhuyung dan perlahan  berbaring di tumpukkan resah…
Kutenangkan jiwaku di ruangan segelap tinta ini dan mulai mendengarkan hatiku berujar…
Seharusnya aku tidak menganggap kesendirian begitu menyenangkan…

Namun,
Ketika kulantunkan kerinduan itu, sekali lagi kurasakan kepanikan dan kebingungan menyeretku..

Kali ini hatiku berteriak kencang…!!!
Siapa aku? Pantaskah rindu ini kualamatkan padanya?!


Nada pahit dari hatiku itu membuatku tersadar akan siapa aku sekarang…

You’ll never know what I feel tonight…

I think u never know how it feels to be me

You thought we’ll be fine… But I said we’ll be missing each other

The mistake that we’ve made ruins our tears

Too much worried that I put on my soul

When the rain drops on my cheek

It will hide my tears and alleviate the suffering of my heart

 

I’m still on your side, but I can’t spell that I need you tonight

I’ve tried to erase you out of my mind

Bless my dream from your touch,

But I can’t!!!

 

In this empty room

I whisper many words for you…

But when word became superfluous

I know that’s useless, because you can’t hear through my sentences…

The serenade of our song besieges on my head

And…

The more I think about you

The more I realize there is nothing more artistic than to love you…

 

miss u dear..

Hembusan terakhir…

Kusambut tanganmu dalam galaunya hatiku

Tenang kurasa jiwa ini bermukim diburit nadimu

Senjamu meneduhkan nirwana ini

Nirwana yang tak ingin merasakan sengatnya tarian mentari

Kau sibakkan airmataku dalam lembutnya ucapmu

Kau lenyapkan kehampaan dalam palung jiwaku


Namun kini…

Suara-suara lirih merundung naunganmu

Senjamu tak lagi kukecap

Sungguh kau telah lenyap

Kereta ini tak ingin memiliki perhentian

Terus berjalan dalam pelukkan embun

Terukir duka menyelimuti nirwana

Nirwana yang kehilangan indahnya sang Senja


Lantunan kidung yang bergaung

Semata menghantar Senja pada mendung

Kepal angan ini pun telah enyah

Remuk bersama hembusan resah

Takkan lagi…

Airmatamu adalah duka terdalamku…
Karena itu,
Takku ijinkan tetesan itu membasahi wajahmu lagi..
Kau kekasihku..
Kekasih yang membuatku selalu merindu…

Sang Kereta Nirwana

Mengembara dalam duka

Membakar angannya dalam perapian amarah

Menghancurkan tumpukkan kesunyian dalam ruang remang