Rishela's Blog

kereta nirwana sang senja

Archive for April 28, 2010

thank you for loving me

Sepasang kekasih perempuan dan laki-laki sedang melaju lebih dari 100 km/jam di jalan dengan sebuah motor.

Perempuan : Pelan-pelan, aku takut.

Laki-Laki : Tidak,ini menyenangkan.

Perempuan : Tidak, ini sama sekali tidak menyenangkan. Please, aku takut!

Laki-Laki : Baik, tapi katakan dulu bahwa kau mencintaiku.

Perempuan : Aku mencintaimu! Sekarang pelankan motornya!

Laki-Laki : Sekarang beri aku pelukan yang erat.

(Lalu Perempuan itu memeluknya)

Laki-Laki : Bisakah kamu melepas helmku & kamu pakai? Helm ini sangat mengganggu saya!

(Perempuan itu pun menurutinya)

Keesokan harinya ada berita di koran sebuah sepeda motor menabrak gedung karena rem-nya blong.

Ada dua orang di atas motor itu, tetapi hanya satu orang yang selamat.

Yang terjadi sebenarnya adalah bahwa di tengah jalan, Laki-Laki itu menyadari bahwa rem motor mereka rusak, tapi dia tidak ingin membiarkan kekasihnya tahu.

Dia meminta Kekasihnya berkata dia mencintainya & merasakan pelukannya, karena dia tau itu untuk terakhir kali baginya.

Dia lalu menyuruhnya memakai helm supaya kekasihnya akan tetap hidup walaupun itu berarti ia yang akan mati…

Pernahkah kamu mencintai seseorang sampai sebesar ini ???

Ataukah hanya sebatas memperhatikannya, peduli, menelpon / mengirimkannya sms hanya untuk membuatnya bahagia?

Pernahkah kamu mengatakan “AKU MENCINTAIMU” padanya?

Ataukah kamu menunggu untuk mengatakan itu disaat kamu berada dlm situasi seperti diatas motor itu?

Jika tidak, kamu masih punya kesempatan untuk mencintainya lebih lagi.
Jangan menyimpan rasa cinta itu hanya di dalam hati. Katakan padanya bahwa kau mencintainya
Karena kamu tidak pernah tau, apakah besok kamu masih punya waktu dan kesempatan untuk mengungkapkannya…

Advertisements

Bumerang kata-kata

Setelah melihat hasil karya mahasiswa yang tidak memuaskan, seorang dosen yang terkenal killer dengan muka garang berkata pada mahasiswanya di ruang kelas.

“Siapapun yang merasa idiot di ruang kelas ini berdiri!” ucapnya.

Suasana kelas mencekam, semua mahasiswa diam duduk tertunduk.
Sang dosen mondar mandir melihat wajah mahasiswanya satu-persatu.
Setelah sekian lama suasana hening, satu mahasiswa nekat menunjuk tangan dan bertanya.

“Pak, apakah bapak merasa idiot?” tanyanya
“Tentu saja tidak, saya ini dosen dan titel saya doktor!” jawab sang dosen.
“Lalu, kenapa hanya bapak sendiri yang berdiri di ruang kelas ini?”
Grrr…