Rishela's Blog

kereta nirwana sang senja

Archive for January, 2010

Mengapa Cincin Pernikahan Ditaruh di Jari Manis??

Ini aku dapat artikelnya dari google..td pas lagi baca2 artikel aku dapat artikel ini….menurutku bagus seh, semoga kalian yang membaca berpendapat yang sama denganku…

Ikuti langkah berikut ini, (ini berasal dari kutipan Cina) :
1. Pertama, tunjukkan telapak tangan anda, jari tengah ditekuk ke dalam

2. Kemudian, 4 jari yang lain pertemukan ujungnya.

3. Permainan dimulai , 5 pasang jari tetapi hanya 1 pasang yang tidak terpisahkan…

4. Cobalah membuka ibu jari anda, ibu jari menwakili orang tua, ibu jari bisa dibuka karena semua manusia mengalami sakit dan mati. Dengan demikian orang tua kita akan meninggalkan kita suatu hari nanti.

5. Tutup kembali ibu jari anda, kemudian buka jari telunjuk anda, jari telunjuk mewakili kakak dan adik anda, mereke memiliki keluarga sendiri, sehingga mereka juga akan meninggalkan kita.

6. sekarang tutup kembali jari telunjuk anda, buka jari kelingking, yang mewakili anak2. cepat atau lambat anak2 juga akan meninggalkan kita krn hrs berkeluarga sendiri.

7. selanjutnya, tutup jari kelingking anda, bukalah jari manis anda tempat dimana kita menaruh cincin perkawinan anda, anda akan heran karena jari tersebut tidak akan bisa dibuka. Karena jari manis mewakili suami dan istri, selamanya hidup anda dan pasangan anda akan terus melekat satu sama lain.

Selamat Berbahagia yah buat yang sudah menemukan pasangan hidupnya, buat yang belum mendapatkan ayo semangat !!!! dan jangan pernah berhenti berusaha…gak ada yang sia2 loh…

God Bless…

Advertisements

Perih

kecupan, belaian, hangat peluk itu… semua bertaut dalam benakku… menyeret semua langkahku kembali ke titik rapuh itu, baru kini kusadari ternyata dalamnya kenangan itu perlahan kembali menyelimuti benakku.. bekas.. iya… kenangan itu meninggalkan bekas, bekas yg sangat dalam jika aku memandang ke tepian kenangan itu… sesak yg beradu tiba-tiba berpacu dalam jantungku..meluluh lantahkan seluruh pertahananku…

5 tahun..

ternyata 5 tahun tidak cukup bagiku untuk benar-benar melenyapkan engkau dari sisi ingatan ini..sesalku tak berujung, tak pernah habis isak tangis ini jika mengenangmu… sampai detik ini pun aku masih bisa menggambarkan guratan senyum yg terukir di wajahmu, begitu hangat dan teduh, mata ini tak lepas memandang senyum simpul itu ketika kau mendengar canda yg kucipta untuk menepiskan lelah di pundakmu.. jika kini kau mendengar candaku, masihkah kau mau tersenyum duhai penjaga mimpiku??

namun kurasa tidak….

kau bahkan akan sangat membenciku jika aku mencoba untuk mengingat masa-masa itu.. kenapa pundi katamu habis untukku sebelum aku benar-benar mendengar basuhan kata terakhirmu?? mengapa tak kau katakan padaku dari awal bahwa sakit itu begitu menyiksamu?? bulir-bulir airmata yg kadang terjatuh jika aku memeluk tubuh hangatmu seolah mengisyaratkan seluruh perasaanmu, tatapanmu yang penuh cinta sehangat belaian mentari sore yg menari di atas kulitku..

kau tau betapa berharganya waktu demi waktu yg kita lalui… tapi aku tak pernah tau semua itu… mengapa?? mengapa tidak dari awal kau memberitahuku?? tau kah kau sakitnya menghadapi semua rasa itu sendiri?? tak jarang aku merasakan kehadiranmu di sisi mimpiku.. dan itu cukup menyiksa batinku..

terasa begitu nyata ingatan itu… bulan ke delapan sore hari saat aku beranjak mengejar satu citaku, kau tak hadir menemani keluh tangis perpisahanku… perpisahan yg ternyata sangat kusesali.. ketika aku sampai di kota ini, kau begitu senang mendengarnya, luapan rasa kesal yg keluar dari bibirku tidak menipiskan sedikitpun perasaan sayangmu padaku.. kau tau aku sangat marah karena kau tak mengantar kepergianku.. kalimat itu terus teracau dariku.. namun kau tidak menyambut amarahku itu dengan jawaban.. malah kau terus menanyakan keadaanku.. canda yg dihadirkan olehmu perlahan menyapu bersih amarahku.. ‘i’m gonna miss u‘ itu kata terakhir yg dia berikan mengusaikan perbincangan kita siang itu.. dan kecupan rindu itu persis sama dalam mimpiku..

semua berjalan baik.. aku menyukai cerita baruku di kota ini, namun ada yg kurang… kekasihku tak kunjung menghubungiku setelah hampir 2 pekan.. sapaanku pada telponnyapun tak dihiraukan.. kecemasan mulai menghantui pikiranku, namun hilang seketika ketika salah seorang saudaranya mengatakan kalau dia sedang  sibuk dan tidak sempat mengabariku.. sekali lagi dia menitipkan kata rindu melalui saudaranya itu…bagiku itu sudah cukup menenangkan hati cemas ini..

3 pekan..

4 pekan..

4 pekan 3 hari

tak ada lagi kabar darinya.. tak ada lagi pesan yg dititipkan kepadaku, hari yg berat untuk memaksa hatiku tenang…

kularutkan kecemasanku di alam tidurku… kucoba memahami kesibukan yg dihadapinya, mungkin tidak mudah sehingga dia harus terus fokus pada hari-hari sibuknya… mimpi menghanyutkan kecemasanku… sungguh menenangkan jiwaku..

4 pekan 5 hari..

bulan ke sembilan di hari ke 5..

sore yg sangat tak kuharapkan hadir di hidupku…

aku menghubungi dirinya, namun tetap saja tak ada balasan… suara tegasnya tidak hadir begitu lama dalam hari-hariku..

terlalu lama..

tak sanggup lagi kutahan rindu ini…

kini aku tak dapat menahan kecemasanku.. aku menghubungi saudara-saudaranya.. bahkan aku menghubungi ibuku, kalau-kalau dia mengabari sesuatu atau menitipkan sesuatu padaku..

tak percaya

ibuku mengatakan bahwa dia baik-baik saja dan terakhir dia sedang berada di luar kota..

tak seperti biasanya, dia tak pernah meninggalkan rasa cemas menguasai hatiku…

tiba-tiba saudara perempuanku menghubungiku melalui pesan singkat.. dia mengatakan.. ‘kak, yg tabah yah.. aku tau kakak pasti kuat!‘ secara keseluruhan aku benar-benar tidak paham dengan isi pesan yg muncul di layar ponselku, detik itu juga aku menghubungi adikku…

muncul perasaan tercekik dan sesak menyelimuti setiap sel di tubuhku…kebisuan yg hadir menciptakan embun di pelupuk mataku, sesak… sakit… perih menyayat perasaanku, rasanya seperti baru mengunyah empedu..

kesadaranku seketika dibubuhi bayangan kekasihku… kekasih yg sudah 4 pekan 5 hari tak mengucapkan sepatah kata pun padaku..

terdengar suara rampasan ponsel… ‘ris, kamu tenang dulu sayang… mama jelasin semuanya yah… dengar mama ris.. riss… please… ‘ mulutku seakan terkunci, sapaan balik untuk ibuku tertahan ditenggorokanku.. kurasakan seperti tertancap dan tidak bisa keluar..

isak tangis mulai menjauhkan aku dari kesadaran.. suara ponselku yg masih berada tepat di telingaku seolah tak terdengar sama sekali.. pusing yg hebat seolah menghantam kepalaku, perutku mulas seakan ingin mengeluarkan santapanku siang tadi…

ketarik semua rasa itu dengan paksaan yg sangat melukai hatiku, kuraih kesadaran demi mendengar penjelasan dari ibuku..

yah..

penjelasan tentang kekasih yg kucintai…

kekasih yg tidak mengabariku…

4 pekan  4 hari.. adalah hari-hari tersibuknya.. itu yg kutahu, tapi ternyata semua itu palsu… sibuk yg dimaksud mereka ialah sibuk menahan sakit yg melanda tubuhnya yg semakin hari semakin rapuh, sibuk mengalihkan rasa sakitnya yg semakin menggerogoti benteng kekuatannya…

kekasihku….

di pekan keempat hari kelima.. menghakhiri perjuangannya melawan serangan bertubi-tubi yg diciptakan oleh penyakit itu..

yah…

dia pergi…

pergi meninggalkan raganya yg sangat rapuh…

hangatnya airmata yg membasahi wajahku…

ibuku tak mampu lagi menjelaskan apapun..

aku mengakhiri mendengar kabar yg menyakitikan itu..

seolah tak mempercayai apa yg baru kudengar.. aku menghubungi saudara kekasihku, namun apa yg kudapat… tangisan yg seolah membutuhkan pelukan hangatku untuk menenangkan jiwanya yg menyambut sapaanku.. tangisan itu lebih dalam dan menyakitkan hatiku… aku mencoba menguatkannya namun aku terlalu rapuh untuk melakukan itu…

satu hal yg membuatku benar-benar tak bisa menahan luapan airmataku ketika saudaranya mengatakan kata terakhir yg diucapkan kekasihku, yah.. setelah dia bertutur untuk seluruh keluarganya, tak ada pesan terakhir yg dia titipkan untukku.. tak ada… ucapan dia menyayangiku pun tak terucap sebagai pesan terakhir untukku..

kata terakhir yg dia ucapkan hanya satu.. yaitu ‘Riris‘.. kata terakhir itu langsung menyambutnya ke dunia baru… kata terakhir itu adalah namaku… yah.. pelafalan namaku…

parau suaraku justru hanya mengeluarkan erangan… sangat menyakitkan…

bibirku kelu, tak bisa berucap apapun.. kumatikan ponselku dan kujatuhkan lututku menyentuh kerasnya ubin dingin.. kuletakkan tubuhku juga.. perlahan mendekati dinginnya ubin itu, erangan yg dalam mulai menghabiskan suaraku yg parau.. kueratkan kedua tanganku memeluk lututku.. tangisan yg sama yg kurasakan saat aku kehilangan ayahku.. tangisan tanpa suara yg seolah merajam jantungku.. merampas kebahagiaanku.. menghanyutkan aku pada samudra kesedihan yg semakin lama semakin menarikku jauh ke dasar…

mengapa?? bisikku dalam kesunyian…………

namun tetap saja… tak ada jawaban… tak ada… tak ada sama sekali…

Bersyukur

Tahun 2009 yg takkan terlupakan..

begitu banyak peristiwa yg terjadi di tahun itu… peristiwa yg menambah deretan panjang cerita dalam buku kehidupanku… dari hal yg sangat menyenangkan, hingga hal yg sangat menyedihkan…

masalah demi masalah yg tak merontokkan semangatku dalam melanjutkan hidup yg memang ‘berat’ ini… tangisan mengharu biru yg sering menjadi teman dalam heningnya malamku… dan juga tawa lepas yg seolah meluapkan segala kepenatan dalam batin ini..

sungguh.. semua ini tak bisa aku lalui tanpa adanya seorang Sahabat yg selalu menemaniku..  Dia adalah seseorang yg sangat berarti bagiku.. selalu hadir di setiap tangis dan tawaku..seberat apapun masalah yg kulalui, selalu mampu kuhadapi jika Dia menyertaiku..

bagi-Nya, setiap pilihan yg kutentukan adalah langkah kecilku menaiki tangga kedewasaan.. seluruh amarah dan kekecewaan yg kuutarakan pada-Nya tak pernah jd dendam di hati-Nya…

Terima kasih Sahabat.. terima kasih untuk kasih yang begitu besar yg Kau berikan padaku..

rasa syukurku tak pernah ada habisnya jika melihat hari-hari yg lalu.. banyak air mata di sana.. tapi Kau selalu siap membasuhnya dengan pelukan lembut-Mu..

Sahabat.. Kaulah sosok yg selalu hadir ketika tak ada seorang pun yg datang di saat aku membutuhkan pertolongan.. Kaulah sahabat yg selalu ada ketika aku tak tahu harus mencurahkan rasa sedih yg begitu meremukkan hatiku.. Kaulah ayah yg selalu menegurku ketika aku salah melangkah…

Kini.. tahun yg baru telah menyapaku..

sanggupkah aku melalui tantangan di tahun yg baru ini Sahabat??

mampukah aku menjalaninya dengan senyuman bukannya keluhan….

Sahabat…

kuakui… aku tak mampu berjalan tanpamu…

pintaku tak banyak Sahabat…

inginku hanya satu…

genggamlah erat tanganku ini dan kumohon untuk Kau tidak melepaskannya sedetik pun…